Alur Literasi Informasi Bencana Generasi Z: Dari Akses menuju Kesiapsiagaan Nyata

 

2026

Peneliti

  • Dr. Feri Ferdinan Alamsyah, M.I.Kom.
  • Helmi Setia Ritma Pamungkas, M.Si.
  • Dini Valdiani, M.Si.
  • Cellia Stephanie Hilmadiany
  • Salma Khoerunnisa

 

Alur informasi bencana pada Generasi Z dapat dipahami sebagai suatu proses yang berlangsung secara bertahap, mulai dari akses terhadap berbagai sumber informasi melalui media digital hingga terbentuknya kesiapsiagaan bencana yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Model ini terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu input, proses, dan output. Ketiga tahapan tersebut menunjukkan bahwa paparan informasi melalui media tidak secara otomatis menghasilkan kesiapsiagaan, tetapi perlu melalui proses penerimaan, penilaian, dan pemaknaan informasi oleh individu.

Tahap pertama adalah input, yang mencakup sumber informasi dan keterlibatan Generasi Z dalam menggunakan media. Generasi Z memperoleh informasi kebencanaan dari berbagai sumber, seperti BMKG, BNPB/BPBD, media massa, media sosial, aplikasi kebencanaan, serta komunitas digital. Pada tahap ini, keterlibatan media tidak hanya dilihat dari frekuensi mengakses informasi, tetapi juga dari aktivitas seperti mengikuti akun resmi, membaca atau menonton konten kebencanaan, memberikan respons, membagikan atau melakukan repost, serta memproduksi dan menyebarluaskan kembali informasi kepada jaringan sosialnya. Dengan demikian, Generasi Z ditempatkan bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai aktor yang berpartisipasi dalam sirkulasi informasi kebencanaan.

Tahap kedua adalah proses, yaitu bagaimana informasi yang diperoleh melalui media diterima, dipercaya, dipahami, dan dievaluasi. Dua aspek utama dalam tahap ini adalah kepercayaan terhadap informasi dan literasi informasi kebencanaan. Kepercayaan berkaitan dengan sejauh mana Generasi Z memandang sumber dan isi informasi sebagai kredibel, akurat, konsisten, dan dapat diandalkan. Sementara itu, literasi informasi mencakup kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kebencanaan. Pada tahap ini, Generasi Z tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi melakukan proses verifikasi dan penilaian sebelum menggunakan atau menyebarluaskan informasi tersebut. Proses ini menjadi penting karena tingginya arus informasi digital juga meningkatkan kemungkinan munculnya informasi yang tidak akurat, misinformasi, maupun informasi yang menimbulkan persepsi risiko yang keliru.

Tahap ketiga adalah output, yaitu terbentuknya kesiapsiagaan bencana. Informasi yang telah dipercaya, dipahami, dan dievaluasi diharapkan dapat mendorong perubahan dari sekadar pengetahuan menuju tindakan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan tersebut dapat ditunjukkan melalui kemampuan mengenali risiko bencana, mengetahui jalur dan lokasi evakuasi, memiliki rencana menghadapi bencana, menyiapkan kebutuhan darurat, mengikuti simulasi atau latihan, memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, serta mampu menyebarluaskan informasi yang benar kepada lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, alur informasi bencana Generasi Z dapat dipahami sebagai proses “dari akses media menuju kesiapsiagaan nyata”, yaitu sumber dan keterlibatan media sebagai input, lalu kepercayaan dan literasi informasi sebagai proses dan kesiapsiagaan bencana sebagai output. Model ini menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi kebencanaan tidak cukup diukur dari seberapa sering Generasi Z memperoleh atau mengakses informasi, tetapi juga dari sejauh mana informasi tersebut dipercaya, dipahami, dievaluasi, dan akhirnya diterjemahkan menjadi tindakan kesiapsiagaan. Dalam kerangka ini, media digital berfungsi sebagai pintu masuk informasi, sedangkan kepercayaan dan literasi informasi menjadi mekanisme penting yang menghubungkan paparan informasi dengan kesiapsiagaan bencana yang nyata.