Fotografi dari Kamera HP #8

Antara Siluet dan Bokeh

Hari ini saya akan kasih kamu teknik memotret siluet dan bokeh. Wah, mahluk apa nih? Caranya tidak sesulit namanya ko, santai saja. Mari kita mulai dari siluet.

Untuk siluet, saya kira kemaren sempat disinggung ya. Sederhananya, bagaimana kita memotret objek tapi terlihat seperti bayangan, jadi cahaya background atau latar belakang jauh lebih terang daripada objeknya.

Nah, pertanyaannya bagaimana cara membuatnya? Karena kita menggunakan kamera dengan semua fitur yang diset otomatis, maka membuat gambar seperti ini punya tantangan tersendiri. Apabila kamu set fitur kamera secara manual sebetulnya lebih mudah. Tapi kita konsisten di otomatis saja ya.

Cara membuat siluet dengan fitur otomatis, fotografer harus mencari background dengan cahaya yang sangat terang. Kalau kurang terang, seperti ini jadinya.

Nah gagalkan? Cahaya di objeknya masih relatif terang, sehingga tekstur objeknya keliatan. Mengapa bisa begitu, kamera dengan fitur otomatis pasti diafragma, shutter speed dan isonya akan selalu menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan pada objek, oleh sebab itu objek masih terlihat terang.

Saya menggunakan objek tangan jadi biar kamu mudah mengira-ngira jaraknya ya. Nah kalau menggunakan background yang sangat terang, kamera dengan fitur otomatis pun tetep kalah. Sehingga efek siluet bisa diperoleh. Cahaya terang itu bisa dari matahari atau lampu yang terang banget, antara 40 watt ke atas. Nah seperti ini lah kira-kira.

kalau masih kurang puas, kamu bisa edit sedikit, seperti ini

Teknik selanjutnya membuat bokeh, pengertian sederhananya bokeh adalah membuat gambar background menjadi blur atau tidak fokus. Kurang lebih seperti gambar di bawah ini.

Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan yang tegas antara objek dengan background. Perbedaan itu ditunjukkan dengan titik fokus pada objek dan backgroundnya. Objek dibuat fokus atau gambarnya jelas, sementara untuk background dibuat sengaja blur.

Lagi-lagi untuk kamera dengan fitur yang diset secara otomatis, teknik seperti ini gampang-gampang susah. Karena shutter speed, iso dan diafragma saling menyesuaikan. Untuk itu, cara yang paling mudah, pastikan cahaya pemotretan cukup terang.

Untuk mencontohkan caranya, saya gunakan barang yang ada di tempat makan ya, biar gampang mengikutinya. Gambarnya seperti ini misalnya.

Sudah kelihatan bedanya? Saya perbesar ya biar lebih jelas.

Untuk membuat seperti ini, kita harus memerhatikan beberapa hal. Pertama, pencahayaan, lalu jarak antara objek dengan background dan titik fokus sebaiknya manual.

Mari kita set dulu titik fokus pada kamera kamu, kalau pake hp atau kamera saku set titik fokus pada setingan touch focus. Mengapa harus begitu, fitur tersebut akan memudahkan kita menentukan objek utama. Seperti ini.

Gambar titik fokus..

Lalu menentukan jarak antara objek dan backgroundnya. Kurang lebih pastikan antara jarak antara objek dengan background sekitar 60 centimeter hingga 1 meter. Ini jarak ideal minimal. Di atas satu meter juga tidak apa-apa, tapi jangan di bawah 60 centimeter, karena untuk kamera otomatis yang relatif berlensa biasa agak sulit memotret dengan teknik ini.

Dengan jarak ini, memungkinkan kamera untuk membedakan objek yang difokuskan dengan yang tidak difokuskan, seperti ini hasilnya.

Nah, mudah-mudahan bisa membantu, silahkan mencoba.

Fotografi dari Kamera HP #7

Sayang untuk dilewatkan

Dalam sesi ini saya akan bahas berbagi pengalaman liburan melalui foto. Pada dasarnya berbagi pengalaman melalui foto, saat ini sudah menjadi kebiasaan kita. Punya pengalaman menarik apa, kemudian dipotret dan dikasih tau sama orang banyak. Bentuk berbagi-baginya pun macam-macam, ada yang memperlihatkan langsung pada teman atau keluarga, ada pula yang mengunggah melalui media sosial. Macam-macam, tapi maksudnya sama.

Foto yang saya maksud kali ini, bisa foto apa saja yang diambil saat liburan. Bisa foto keluarga, foto pemandangan, foto gedung berarsitektur indah, foto suasana liburan di tempat liburan atau apapun. Yang penting, foto tersebut menarik dan menurut kamu bisa dilihat dan dinikmati orang, paling tidak, bisa dinikmati orang-orang sekitar kamu.

Untuk berbagi dimanapun terutama di area publik, seperti media sosial misalnya, kamu perlu perhatikan aturan sedikit. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kita mesti hormati sedikit, bisa bahaya soalnya.

Untuk sekarang, saya akan bagi sedikit pengalaman saya waktu pulang kampung ke Bandung. Kota kecil yang dahsyat. Foto-foto ini saya ambil ketika saya mau pulang ke rumah dari arah Dago. Tak sengaja saya lewat jalur alun-alun. Wah, saya pengen santai-santai dulu deh, sambil nunggu macet. Saya parkir tepat di samping gedung asia afrika, tak jauh dari kantor pusat surat kabar pikiran rakyat.

Begitu keluar, saya langsung melihat Hotel Savoy Homan. Hotel klasik yang kerap digunakan petinggi negara saat menggelar konferensi asia afrika.

Dari Hotel Savoy lanjut ke arah alun-alun Bandung. Jalan kaki saja, jaraknya cukup dekat ko. Jalan sedikit di seberang jalan bisa kita temui museum konferensi asia afrika, di sini berderet tiang-tiang bendera. Boleh lah dipotret low angle, backgroundnya langsung langit.

Jalan lagi sedikit, kita akan temukan pintu utama gedung asia afrika. Pintunya tapi dibuka untuk acara-acara khusus saja. Namun, meski ditutup, pesonanya tetap dimanfaatkan untuk foto-foto selfie dan grup.

Berjalan lagi sedikit kita akan temukan masjid agung. Wah, kali ini arsitekturnya ada perubahan di mana-mana. Kang emil memang piaway memoles bangunan menjadi enak dipandang dan dijadikan tempat rekreasi. Di antara masjid itu diletakkan pilar mirip benteng atau gerbang masuk, cantik ya kalau dipadukan sama pilar utamanya.

Tak jauh dari situ, tepatnya sebelah masjid agung, ada pertokoan jaman dulu yang cukup bersejarah. Dibikin siluet, asyik sepertinya.

Di seberang pasar klasik ada bangunan jadul yang kini digunakan untuk kepentingan perbankan. Lupa nama gedungnya apa, tapi aduhai kalau kita potret keseluruhan. Karakter dari gedung itu memang sangat kuat. Paling cihuy kalau kita potret dari atas, kebetulan ada jembatan penyebrangan.

Di jembatan penyebrangan, diam dulu sejenak, liat kiri kanan wah ternyata ada yang asyik. Ini potret jalanan tidak biasa. Jalanan ini sangat beraejarah, inilah salah satu ruas jalan yang menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah kolonial belanda saat jaman penjajahan. Ini adalah jalan yang menghubungkan wilayah banten hingga jawa timur, atau dikenal jg jalan anyer panarukan

Nah, asyik kan berbagi pengalaman melalui foto, mudah-mudahan tulisan ini semakin membangkitkan semangat kamu buat motret, selamat mencoba.

Fotografi dari Kamera HP #6

Soal Aturan Tiga Ruang (Rule of Third)

Sesi kali ini saya akan bahas sedikit teori untuk mendapatkan foto dengan komposisi yang asyik.

Pada dasarnya, memang hasil fotografi itu seperti karya seni lainnya, tingkat kebagusan sebuah karya sifatnya sangat subjektif, atau bergantung pada kesukaan dari fotografer dan penikmatnya. Misalnya, ada foto yang dihasilkan oleh si fotografer a dan dilihat oleh penikmat b. Menurut si b, foto dari a sangat bagus dan mempunyai nilai atau harga yang mahal. Katakanlah, b menghargai foto a dengan nominal Rp. 150 juta misalnya. Tiba-tiba ada penikmat c yang nyeletuk, ia tidak setuju dengan pandangan b yang menghargai foto a dengan nilai yang tinggi. Menurut c, foto a hanya foto biasa, baik dari ide, komposisi dan pengemasannya pun tidak menarik. C justru menyarankan a untuk membuang jauh-jauh foto karyanya itu.

Nah, dari contoh kasus tersebut, setiap orang berhak untuk mengutarakan opini mengenai suatu hal, termasuk di bidang fotografi. Teori estetika dari fotografi muncul karena adanya kesamaan bentuk atau tata letak objek dalam sebuah foto. Biasanya foto dengan objek tertentu selalu diminati misalnya, walaupun komposisinya berbeda. Namun, ada pula foto berbeda dengan komposisi yang sama atau mirip, selalu diminati, walaupun dengan menggunakan objek yang berbeda.

Jadi, teori yang akan saya sampaikan bukan berarti saklek ya. Karena foto yang bagus itu relatif, tapi apa yang saya sampaikan awalnya dari cara orang membuat atau melihat, biasanya berpegang pada prinsip ini.

Kalau kamu surfing di internet sebetulnya juga sudah banyak dibahas, di tulisan ini saya hanya menyederhanakannya saja, mudah-mudahan gampang dimengerti ya.

pertama-tama, coba perhatikan beberapa gambar di bawah ini.

Nah, foto-foto tersebut, saya ambil dengan menggunakan prinsip rule of third, atau dalam bahasa saya aturan tiga ruang. Aturan ini pada prinsipnya membagi bingkai atau frame foto menjadi tiga bagian, baik secara vertikal maupun secara horizontal.

Begini maksudnya, jadi dari satu bingkai foto, kita sebagai fotografer akan membaginya menjadi sembilan bidang sama besar, yang terdiri dari campuran bidang secara horizontal (ke samping) dan bidang secara vertikal (ke atas). Misalnya foto yang ini.

Di beberapa kamera, sudah terdapat fitur rule of third ini, tinggal ke menu lalu aktifkan grid-nya. Maka fitur rule of third akan keluar.

Foto satu ini, frame-nya akan saya bagi menjadi sembilan bidang. Dengan pembagian tersebut, fotografer dapat menempatkan objek dengan baik.

Kalau kita bedah sedikit, cermati di mana fotografer menempatkan posisi objek? jawabannya objek ditempatkan agak ke kiri ya, jadi posisi objek ada di sepertiga bagian frame yang mendekati ke arah kiri, sementara untuk bagian kanannya dibiarkan di isi oleh background.

Dengan teknik aturan tiga ruang, maka bisa dilihat seperti ini. Posisi objek, tepat diperbatasan garis sebelah kiri. Nah, kesimpulannya, foto bagus pertama bisa kita ikuti dengan menggunakan teknik tiga ruang.

Mari kita lihat foto yang lain,

Kurang lebih sama ya, posisi objek ada tepat di garis yang kiri. Pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana untuk foto yang vertikal?

Untuk foto yang vertikal pun kurang lebih mempunyai prinsip yang sama, seperti foto ini misalnya.

Sama kan, objek di foto ini juga terletak di perbatasan garis yang sebelah kiri.

Nah dengan mengetahui teknik ini, kita bisa lebih memahami komposisi atau cara meletakkan objek dengan bantuan grid aturan tiga ruang. Sebetulnya kamu tidak selalu menempatkan objek di sebelah kiri saja, namun bisa juga di garis yang kanan misalnya, tergantung selera kamu. Grid rule of third hanya berfungsi sebagai panduan sederhana saja. Keputusan terakhir menempatkan objek ada di fotografer.

Atau kamu ingin menempatkan objek di tengah-tengah misalnya, tidak masalah, selama menurut kamu objek tersebut lebih bagus jika ditempatkan di tengah, maka tidak ada yang melarang. seperti foto di bawah ini misalnya.

Objeknya adalah crane, posisinya justru di tengah kan, tapi kita sebagai orang yang melihat tidak keberatan jika objek foto itu ditempatkan di tengah. Bebas, point-nya, yang penting foto yang kita buat dapat membuat kita senang dan rileks.