Animasi dan Film dalam Komunikasi #2

RAGAM ANIMASI SAAT INI

Jenis-Jenis Animasi dilihat dari tehnik pembuatannya animasi yang ada saat ini dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu:

  1. Animasi Stop-motion (Stop Motion Animation)

Stop-Motion adalah teknik yang menggabungkan teknik fotografi dengan teknik animasi. Teknik ini merupakan animasi yang dihasilkan dari pengambilan gambar berupa objek (berupa boneka atau lainnya) yang digerakkan setahap demi setahap. Ketika sebuah benda atau objek dibentuk sedemikian rupa, kemudian difoto satu per satu. Setelah itu, foto-foto tersebut akan menjadi bahan utama dalam pembuatan animasi.

Rangkaian foto-foto tersebut kemudian digabungkan sehingga membentuk animasi. Teknik ini sering disebut juga dengan teknik claymotion, karena dalam perkembangannya jenis animasi ini sering menggunakan media clay (tanah liat). Kini, media yang digunakan lebih beragam, misalnya boneka, kertas (origami), gambar di kertas, gambar di papan tulis, lilin/malam dan sebagainya. Misalnya, shaun the sheep, nightmare before chrismast, The Boxtrolls dan lain-lain.

download
Gambar: proses stop motion Sumber:www.stop-motion.co.id
Stop-motionh
Gambar: proses stop-motion 2 Sumber: http://www.steampowerafterschool.org/ipad-stop-motion/
Shaun-Sheep-full_3175019b
Gambar: Shaun the Sheep Sumber: http://www.telegraph.co.uk/
  1. Animasi 2 Dimensi (Traditional animation)

Jenis animasi 2 dimensi adalah animasi yang dibatasi pada 2 sisi atau dua bidang saja, yakni sisi panjang dan sisi lebar. Sehingga animasi jenis ini hanya bisa dinikmati atau dilihat dari satu sisi saja. Animasi 2 dimensi memiliki sifat flat atau datar secara visual. Animasi jenis ini sering kita jumpai di acara-acara televisi. Dikatakan tradisional, karena animasi 2 dimensi merupakan jenis yang dibuat pada awal-awal perkembangan dunia animasi. Contohnya : Looney Tunes, Pink Panther, Tom and Jerry, Scooby Doo, Doraemon, Mulan, Lion King, Brother Bear, Spirit, Snow White and Pinocchio dan lain-lain.

clip-art-tom-and-jerry-044172
Gambar: Tom and Jerry Sumber: http://www.vector-eps.com/classic-cartoon-characters/
  1. Animasi 3 Dimensi (Modern animation)

Berbeda dengan 2 dimensi, animasi dengan format 3 dimensi tidak dibatasi oleh sisi panjang dan lebar saja, namun ia mempunyai satu sifat, yakni kedalaman. Dengan kata lain animasi 3 dimensi merupakan sajian visual yang mempunyai ruang pada objeknya. Dalam pembuatannya pun, animasi 3 dimensi mempunyai tingkat kerumitan yang lebih tinggi daripada animasi 2 dimensi. Jenis ini mempunyai tata pencahayaan yang baik, ditambah dengan bentuknya yang lebih halus sehingga memberikan kesan ruang yang lebih terasa dan gambar yang seolah-olah nyata. Contoh film jenis ini diantaranya: finding nemo, toy story, shrek, Frozen, turbo dan lain-lain.

Toy_story_character_page
Gambar: Toy story Sumber: http://www.denofgeek.us/
  1. Animasi 4D (4 Dimensi)

Animasi 4D adalah perkembangan dari animasi 3D, jika dalam animasi 3D, karakter yang diperlihatkan semakin hidup dan nyata, mendekati wujud manusia aslinya maka di dalam animasi 4D kita juga dapat merasakan lebih dari sekedar wujud manusia asli.

4dx-blitzmegaplex-h
gambar: bioskop 4 dimensi sumber: indahpurnamasarihidayat.wordpress.com

Dengan teknologi 4D memungkinkan kita panca indra kita merasakan efek-efek dari animasi tersebut seperti efek merasa dan efek mencium. Misalnya saja film-film animasi bertema kehidupan alam, ketika adegan di air, maka ada air yang menyimprat ke wajah kita atau uap air menetes.

3801376_20130704015229 (1)
efek air dalam bioskop 4 dimensi sumber: www.blitzmegaplex.com

Lalu ketika adegan gempa bumi, maka kursi yang kita duduki akan bergetar juga, unik dan mengasyikan tapi para penonton pasti tidak akan fokus ke filmnya melainkan ke efeknya saja. Film berformat seperti ini tidak hanya mengacu pada layar bioskop saja melainkan beberapa aplikasi media seperti penggerak kursi yg menghasilkan getaran, uap air, serta beberapa efek lainnya termasuk AC yang bisa tiba-tiba dingin banget saat adegan salju dan Heater yang dapat memanas saat adegan padang pasir.

Format film ini harus diputar pada bioskop khusus seperti IMAX Keong mas Taman Mini Indonesia Indah dan Bioskop Gelanggang Samudra Ancol. Harga tiketnya pun pasti lebih mahal dan film-filmnya terbatas.

Animasi dan Film dalam Komunikasi #1

ANIMASI

slide 1

  • Animasi berasal dari kata “anima” yang berarti jiwa atau hidup
  • Animasi adalah sebuah proses merekam dan memainkan kembali gambar atau benda diam menjadi bergerak atau hidup
  • Secara sederhana, animasi adalah upaya menghidupkan sesuatu yang tidak bisa bergerak sendiri

 

slide 2

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ANIMASI

  • Sejarah animasi dimulai sejak manusia mengenal budaya gambar atau visual, dengan ditemukannya lukisan-lukisan pada dinding goa. Seperti di Spanyol, penemuan gambar yang menggambarkan gerakan dari binatang-binatang.
http://www.kenneymencher.com/2016/06/bison-15000-12000-bce-altamira-spain.html
http://www.kenneymencher.com/2016/06/bison-15000-12000-bce-altamira-spain.html
  • Saat manusia mulai menyadari bahwa gambar bisa dipakai sebagai alternatif media komunikasi, timbul keinginan menghidupkan lambang-lambang tersebut menjadi cermin ekspresi kebudayaan. Terbukti dengan ditemukannya sejumlah artefak pada peradaban Mesir Kuno sekitar tahun 2000 SM. Salah satunya adalah beberapa panel yang menggambarkan aksi dua pegulat dalam berbagai pose
https://www.pinterest.com/pin/381046818445526790/
https://www.pinterest.com/pin/381046818445526790/

Empat ribu tahun yang lalu, bangsa Mesir juga mencoba memvisualisasikan peristiwa atau tata cara mengenai sesuatu ke dalam gambar-gambar yang dibuat berurutan di dinding-dinding bangunan.

  • Di Indonesia, wayang kulit dianggap memenuhi syarat animasi, kesenian khas Indonesia ini dinilai sebagai salah satu bentuk animasi tertua. Wayang kulit telah ada sejak dahulu, dimana komputer dan telepon belum ditemukan. Mengapa wayang kulit dikategorikan sebagai animasi? Pada wayang kulit terdapat layar, gambar yang bergerak, bahkan dialog dan musik.
http://dimensilain.com/asal-usul-wayang-kulit/
http://dimensilain.com/asal-usul-wayang-kulit/

Animasi tidak akan pernah berkembang tanpa ditemukannya prinsip dasar dari karakter mata manusia, yakni, persistance of vision (pola penglihatan yang teratur). Paul Roget, Joseph Plateau dan Pierre Desvigenes, melalui peralatan optic yang mereka ciptakan, berhasil membuktikan bahwa mata manusia cenderung menangkap urutan gambar-gambar pada tenggat waktu tertentu sebagai suatu pola.

http://codeworld.us/services/3d-animation/
http://codeworld.us/services/3d-animation/
http://codeworld.us/services/3d-animation/
http://codeworld.us/services/3d-animation/

Foto Produk untuk Pemula

hallo, nah kali ini saya akan bahas fotografi produk untuk pemula, menggunakan kamera hand phone. Buat para pedagang-pedagang online, saya kira ini berita bagus. Dalam tema kali ini, saya akan bahas bagaimana cara melakukan foto produk dengan peralatan yang sangat sederhana, plus kamu bisa lebih cepat upload jadi iklan dagangan kamu.

okay, kita mulai dari peralatan dulu, inilah beberapa peralatan yang harus kamu siapkan:

1. karton ukuran besar, kira-kira 60×90 cm. (tetap fleksibel, ukuran disesuaikan dengan ukuran objek)

2. lampu belajar dengan lampu putih sebanyak 2 atau 3 buah.

3. solatip atau lakban

4. tiang penyangga

5. hand phone (untuk kamera kamu)

nah, kira-kira peralatannya seperti itu, ini kebutuhan minimum ya.

selanjutnya kita lakukan penataan peralatan

karton akan kita gunakan untuk latar belakang, sebetulnya warna apa saja bisa dipakai sesuai selera, tapi saya lebih senang menggunakan warna putih. Lakukan seperti yang di foto, latar belakang kita tekuk sehingga objek seperti pada bidang datar. Untuk tiang bisa kita akali dengan menempelkan latar belakang ke tembok rumah. Lalu lampu akan mengikuti selera fotografer, tapi posisi yang saya rekomendasikan ada di sebelah kiri dan kanan objek. Jangan lupa, hand phone batrenya mesti penuh ya.

Nah, ini beberapa hasil dari pemotretan menggunakan kamera hp yang dibantu dengan peralatan yang tadi saya sebutkan. Ya memang ga bagus-bagus amat, tapi untuk standar visual pasar online cukup lah, langsung upload di intagram, path dan lain-lain.

semoga bisa jadi bahan masukan buat bantu usaha online kamu. walaupun sedikit, mudah-mudahan bermanfaat.

Fotografi dari Kamera HP #11 (end)

Waktunya Motret

Akhirnya, kita di babak akhir… nah, di seri terakhir saya coba simpulkan beberapa langkah dalam fotografi ringan untuk terapi.

1. Fotografi adalah kegiatan yang menyenangkan, oleh sebab itu, kamu harus pastikan fotografi adalah kegiatan pelepas penat. Jangan serius-serius… santai saja.

2. Agar fotografi lebih menyenangkan, setting kamera kamu ke mode otomatis, biar ga banyak pikiran menentukan kecepatan shutter dan lain-lain. Masa bodoh manual, pake otomatis saja, lebih asyik.

3. Jangan lupa untuk selalu membawa kamera kamu, kemana pun kamu pergi.

4. Gunakan kamera kecil dan portable saja, biar mudah dibawa-bawa dan muat di saku celana.

5. Jangan pernah malas menggunakan kamera, dimanapun kamu berada, potret setiap pemandangan yang menurut kamu indah.

6. Untuk lebih memudahkan, set ikon aplikasi kamera di “home” hp kamu. Jadi begitu ada yang menarik, angkat kamera kamu dan klik langsung app kamera kamu.

7. Selalu siaga dan hati-hati sama copet.

8. Pastikan batere kamera selalu penuh.

9. Bawalah power bank buat kamu yang menggunakan kamera hp.

10. Perbanyak referensi foto dari berbagai sumber, internet, majalah, koran, iklan, baligo dan lain-lain.

11. Review dan jangan malu-malu mengunggah foto kamu di media sosial.

12. Kalau bisa, ikutan lomba fotografi.

Nah, kurang lebih seperti itu, sekarang saya kasih kamu beberapa contoh hasil foto-foto saya. Selamat menikmati.

001. Pantau KRL

 002. Monas Invantion

003. Banjir

 004. Imlek

005. Merdeka atau mati

 006. Sunset

007. Flower city

 008. Panen

009. Beos

 010. Dilarang kencing

 011. Melawan atau miskin

 012. Ritual

 013. Peluk

 014. hormat

Fotografi dari Kamera HP #9

Elemen Garis dalam Komposisi Fotografi

Setelah mengaplikasikan teori aturan tiga ruang atau rule of third, sekarang mari kita pelajari sedikit elemen garis yang bisa diaplikasikan dalam fotografi kamu. Dalam mengaplikasikan elemen garis ini, hal yang harus kamu latih adalah kepekaan melihat garis dalam setiap objek fotografi yang kamu potret.

Ada beberapa beberapa jenis garis yang bisa kamu cermati, garis lurus baik horizontal atau mendatar dan vertikal atau meninggi. Ada pula garis diagonal baik yang miring ke kiri maupun miring ke kanan. Kemudian, garis yang spesial, seperti garis melengkung.

Saya kira dengan mengenal keempat jenis garis ini, kamu bisa ikuti dengan sangat mudah. Seperti apa caranya?

Elemen yang pertama adalah garis vertikal. Garis seperti ini bisa kamu temukan hampir di semua bangunan. Yang paling sederhana menemukan elemen garis ini misalnya pada tiang-tiang penyangga bangunan.

Seperti pada tiang penyangga kanopi yang ada di peron stasiun, kalau kita deretkan dan dibuat seolah-olah mempunyai ukuran yang berbeda, dari besar hingga kecil, jadi bisa lebih asyik ya. Atau bisa juga garis yang terdapat pada pintu kereta.

Bisa juga pada pilar-pilar sebuah gedung, dipadu-padankan dengan elemen cahaya misalnya, membuat foto garis tersebut terlihat menjadi aksen yang asyik pula. Di potret dari bawah, tambah lagi karakter pilar tersebut terlihat seperti berwibawa, kokoh dan agung.

Selain secara vertikal atau lurus, elemen garis bisa kita temukan secara mendatar atau horizontal. Garis seperti ini biasanya kita temukan pada foto dengan format lansekap, seperti foto pemandangan. Foto laut misalnya, ketika kita memotret matahari terbit atau tenggelam, di antara matahari yang menjadi objek foto, kita akan melihat batas antara laut dan udara seolah-olah dipisahkan satu garis lurus mendatar.

Saya mencontohkan dengan objek yang berbeda, saya ambil di dalam pesawat. Di bangku bagian belakang, biasanya kita bisa menjadikan sayap pesawat menjadi aksen atau malah objek yang asyik, sehingga foto terlihat semakin lengkap. Kembali ke soal garis horizontal, di sini kamu bisa melihat seolah-olah ada garis pembatas mendatar yang memisahkan antara langit yang biru dengan gumpalan awan-awan yang menguning karena terpaan matahari sore. Lumayan la ya, bisa tergambar bagaimana memanfaatkan garis mendatar pada fotografi.

Pada landasan pacu pesawat ini pula bisa kita lihat adanya garis horizontal yang melintang seolah-olah membatasi antara daratan dengan langit.

Garis selanjutnya adalah garis diagonal, garis ini bisa kita temui pada tanjakan tol atau tugu dengan arsitektur diagonal seperti tugu dirgantara di wilayah pancoran Jakarta.

Kita juga bisa buat sendiri dengan membuat garis diagonal yang sesungguhnya garis lurus. Seperti pada kabel listrik ini misalnya, sebetulnya dia bisa kita tentukan mau lurus atau miring.

Nah, si kabel listrik ini mempunyai karakter yang lurus, namun karena menurut saya lebih bagus jika terlihat diagonal, maka seperti ini lah hasilnya.

Selanjutnya adalah garis melengkung, garis seperti ini bisa kita temukan di lintasan jalan tol, atau lintasan sirkuit balap yang biasanya jarak pemisah antara jalur utama dengan pinggiran itu dipisahkan secara tegas oleh garis nyata.

Saya kira fotografer-fotografer balapan di semua tipe lintasan balap, garis melengkung selalu menghiasi foto-foto dahsyat mereka. Misalnya ketika Valentino Rossi menyalip Dani Pedrosa di tikungan, nah aspek lengkungan pasti menghiasi aksi mereka.

Agak susah sepertinya di Indonesia mencari arena balap yang legendaris, tapi kita bisa siasati dengan melatih naluri fotografi kita dari hal-hal yang sederhana, seperti balapan radio control ini misalnya, biasanya di mal-mal terdekat kamu juga pasti ada, tinggal ikuti saja jadwalnya dan cari tahu di komunitas-komunitas.

Garis melengkung tidak hanya bisa kita temukan dari lintasan balap. Ingat naluri menangkap garis dalam fotografi tidak melulu adanya garis tegas, tapi juga kita bisa dapatkan dari kehidupan nyata dengan mengaplikasikan garis imajiner atau garis khayalan dalam foto kita.

Seperti foto suasana di Bundaran Hotel Indonesia ini misalnya, kira-kira garis apa saja yang bisa kita lihat di dalam foto ini? Kalau kamu melihat ada garis lurus vertikal, garis horizontal saja berarti kamu kurang peka. Lihatlah lebih dalam, cahaya dari mobil-mobil di foto ini membentuk garis melengkung yang disebabkan mobil-mobil tersebut mengikuti alur melingkar dari bentuk Bundaran HI. Jadi, garis-garis dalam foto bisa kita dapat dengan mengembangkan daya imajinasi kita.

Nah, bagaimana, sudah bertambah lagi konsep pembuatan foto yang sesuai dengan keinginan kamu? ya walaupun sedikit, paling tidak bisa menambah pengetahuan ya, dan yang paling penting bisa menambah semangat kamu memotret ya.

Fotografi dari Kamera HP #10

Eksperimen Saat Jalan Pulang

Untuk tulisan sekarang, saya ingin mendorong kepekaan kamu dalam melakukan fotografi. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kalau memotret tidak melulu harus di tempat-tempat indah. Di tempa-tempat yang rutin kita tempati atau kunjungi juga dapat memberikan suasa berbeda di foto kamu.

Nah, berikut ini saya akan ajak kamu untuk merespon jalan pulang, baik pulang dari kantor, dari kampus atau dari sekolah. Bisa juga pulang dari rumah saudara atau sepulang belanja di pasar, mau tradisional atau modern pada dasarnya mempunyai karakter yang mirip.

Saya akan contohkan beberapa foto hasil potretan saya ketika dalam perjalanan pulang dari kantor. Pertama-tama yang harus kamu perhatikan tentu saja hati-hati saat mengeluarkan kamera kamu, karena di perjalanan, terutama di Jakarta mesti ekstra hati-hati sama tangan jahil pencopet. Rese banget deh kalau udah kecopetan, jadi hati-hati ya. Dan, yang paling penting, jangan sampai lupa batre kamera mesti terisi, sayang aja ketika melihat suasana yang cantik tak bisa dipotret karena abis batre, apes itu namanya.

Rute perjalanan saya dari kantor menuju rumah, saya selalu di arah jalan Thamrin ke arah stasiun Sudirman, atau bisa juga melalui jalan Kebon Sirih menuju stasiun Gondangdia. Kita lihat ada apa aja ya?

Sebelum pulang, saya sesekali suka nongkrong di tempat parkir kantor sore-sore, wah ternyata langit sedang sangat aduhay. Tak berpikir lama, saya langsung keluarkan kamera hp, ambil lansekap gedung-gedung perkantoran dengan latar belakang langit biru. Lumayan bikin puas deh.

Jalan pulang ke arah stasiun Gondangdia, ada beberapa ruas jalan yang di dalamnya sedang melakukan proyek pembangunan sebuah gedung. Pas mampir, saya tepat berada di bawah gedung tersebut, begitu melihat ke atas, wah terlihat menarik, ini jenisnya seperti foto repetisi atau pengulangan bidang awal sampai akhir, bisa kita lihat kontstruksi lantai pertama hingga ke atas nyaris mirip konstruksinya. Ditambah dengan crane yang berada di depannya, membuat pemandangan jadi lebih unik, sayang buat dilewatkan ya?

Sesampai di Gondangdia, sambil duduk saya melihat ke arah jam 12, awalnya cuma iseng-iseng motret karena ga ada yang bisa dikerjakan selama nunggu kereta datang. Setelah motret langsung diedit di instagram, walhasil jadi seperti ini.

Kesorean di Gondangdia akhirnya gelap juga, karena stasiun berada di lantai 3 atau 4, jadi kita bisa melihat ke bawah. Ini juga pemandangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tanpa pikir panjang, jepret lagi.

Nah, itu kalau saya lewat jalur kebon sirih, kalau saya lewat Thamrin ke stasiun Sudirman, pasti saya lewat Bundaran HI. Tempat ini memang pusat kota yang selalu dijadikan objek foto bagi semua kalangan fotografer. Saya yakin 99 persen di antara kamu yang pernah mengunjungi Bundaran HI pasti pernah motret tempat ini.

Di tempat ini, ada banyak spot yang bisa kita gunakan untuk mengambil foto, misalnya jembatan darurat yang dibuat untuk antisipasi penyebrang dari arah Plaza Indonesia ke arah Wisma Nusantara atau sebaliknya.

Dikatakan darurat, karena sebelumnya jembatan berdiri tepat di atas Halte Plaza Indonesia, jadi sementara dipindahkan karena sedang ada pembangunan jalur MRT di Jakarta.

Dari Jembatan ini, kita bisa melihat muka Bundaran HI dari atas, ini juga kerap digunakan fotografer-fotografer untuk mengabadikan Bundaran HI. Tapi saya melaihat ke arah lain, yakni kesibukan para pekerja proyek pembangunan jalur MRT. Ditambah aksen lampu-lampu dari kendaraan yang tengah macet.

Jika beruntung, kamu akan melihat kegiatan-kegiatan dadakan yang digelar di Bundaran HI. Saat itu saya bertemu dengan komunitas yang peduli dengan buruh migran. Mereka tengah berdemo, dan epik sekali karena menggunakan aksen lilin dalam aksi unjuk rasa mereka. Beruntung sekali deh.

Sampai di Stasiun, ya udah lah ambil semua kegiatan deh, apa aja yang ada langsung sikat.

Saat menunggu.

Saat dalam ruangan.

Saat transit.

dan lain-lain.. pokoknya kreatif aja merespon setiap kesempatan ya. Silahkan berkreasi saja sama kamera kamu, apapun merknya.

Fotografi dari Kamera HP #8

Antara Siluet dan Bokeh

Hari ini saya akan kasih kamu teknik memotret siluet dan bokeh. Wah, mahluk apa nih? Caranya tidak sesulit namanya ko, santai saja. Mari kita mulai dari siluet.

Untuk siluet, saya kira kemaren sempat disinggung ya. Sederhananya, bagaimana kita memotret objek tapi terlihat seperti bayangan, jadi cahaya background atau latar belakang jauh lebih terang daripada objeknya.

Nah, pertanyaannya bagaimana cara membuatnya? Karena kita menggunakan kamera dengan semua fitur yang diset otomatis, maka membuat gambar seperti ini punya tantangan tersendiri. Apabila kamu set fitur kamera secara manual sebetulnya lebih mudah. Tapi kita konsisten di otomatis saja ya.

Cara membuat siluet dengan fitur otomatis, fotografer harus mencari background dengan cahaya yang sangat terang. Kalau kurang terang, seperti ini jadinya.

Nah gagalkan? Cahaya di objeknya masih relatif terang, sehingga tekstur objeknya keliatan. Mengapa bisa begitu, kamera dengan fitur otomatis pasti diafragma, shutter speed dan isonya akan selalu menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan pada objek, oleh sebab itu objek masih terlihat terang.

Saya menggunakan objek tangan jadi biar kamu mudah mengira-ngira jaraknya ya. Nah kalau menggunakan background yang sangat terang, kamera dengan fitur otomatis pun tetep kalah. Sehingga efek siluet bisa diperoleh. Cahaya terang itu bisa dari matahari atau lampu yang terang banget, antara 40 watt ke atas. Nah seperti ini lah kira-kira.

kalau masih kurang puas, kamu bisa edit sedikit, seperti ini

Teknik selanjutnya membuat bokeh, pengertian sederhananya bokeh adalah membuat gambar background menjadi blur atau tidak fokus. Kurang lebih seperti gambar di bawah ini.

Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan yang tegas antara objek dengan background. Perbedaan itu ditunjukkan dengan titik fokus pada objek dan backgroundnya. Objek dibuat fokus atau gambarnya jelas, sementara untuk background dibuat sengaja blur.

Lagi-lagi untuk kamera dengan fitur yang diset secara otomatis, teknik seperti ini gampang-gampang susah. Karena shutter speed, iso dan diafragma saling menyesuaikan. Untuk itu, cara yang paling mudah, pastikan cahaya pemotretan cukup terang.

Untuk mencontohkan caranya, saya gunakan barang yang ada di tempat makan ya, biar gampang mengikutinya. Gambarnya seperti ini misalnya.

Sudah kelihatan bedanya? Saya perbesar ya biar lebih jelas.

Untuk membuat seperti ini, kita harus memerhatikan beberapa hal. Pertama, pencahayaan, lalu jarak antara objek dengan background dan titik fokus sebaiknya manual.

Mari kita set dulu titik fokus pada kamera kamu, kalau pake hp atau kamera saku set titik fokus pada setingan touch focus. Mengapa harus begitu, fitur tersebut akan memudahkan kita menentukan objek utama. Seperti ini.

Gambar titik fokus..

Lalu menentukan jarak antara objek dan backgroundnya. Kurang lebih pastikan antara jarak antara objek dengan background sekitar 60 centimeter hingga 1 meter. Ini jarak ideal minimal. Di atas satu meter juga tidak apa-apa, tapi jangan di bawah 60 centimeter, karena untuk kamera otomatis yang relatif berlensa biasa agak sulit memotret dengan teknik ini.

Dengan jarak ini, memungkinkan kamera untuk membedakan objek yang difokuskan dengan yang tidak difokuskan, seperti ini hasilnya.

Nah, mudah-mudahan bisa membantu, silahkan mencoba.

Fotografi dari Kamera HP #7

Sayang untuk dilewatkan

Dalam sesi ini saya akan bahas berbagi pengalaman liburan melalui foto. Pada dasarnya berbagi pengalaman melalui foto, saat ini sudah menjadi kebiasaan kita. Punya pengalaman menarik apa, kemudian dipotret dan dikasih tau sama orang banyak. Bentuk berbagi-baginya pun macam-macam, ada yang memperlihatkan langsung pada teman atau keluarga, ada pula yang mengunggah melalui media sosial. Macam-macam, tapi maksudnya sama.

Foto yang saya maksud kali ini, bisa foto apa saja yang diambil saat liburan. Bisa foto keluarga, foto pemandangan, foto gedung berarsitektur indah, foto suasana liburan di tempat liburan atau apapun. Yang penting, foto tersebut menarik dan menurut kamu bisa dilihat dan dinikmati orang, paling tidak, bisa dinikmati orang-orang sekitar kamu.

Untuk berbagi dimanapun terutama di area publik, seperti media sosial misalnya, kamu perlu perhatikan aturan sedikit. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kita mesti hormati sedikit, bisa bahaya soalnya.

Untuk sekarang, saya akan bagi sedikit pengalaman saya waktu pulang kampung ke Bandung. Kota kecil yang dahsyat. Foto-foto ini saya ambil ketika saya mau pulang ke rumah dari arah Dago. Tak sengaja saya lewat jalur alun-alun. Wah, saya pengen santai-santai dulu deh, sambil nunggu macet. Saya parkir tepat di samping gedung asia afrika, tak jauh dari kantor pusat surat kabar pikiran rakyat.

Begitu keluar, saya langsung melihat Hotel Savoy Homan. Hotel klasik yang kerap digunakan petinggi negara saat menggelar konferensi asia afrika.

Dari Hotel Savoy lanjut ke arah alun-alun Bandung. Jalan kaki saja, jaraknya cukup dekat ko. Jalan sedikit di seberang jalan bisa kita temui museum konferensi asia afrika, di sini berderet tiang-tiang bendera. Boleh lah dipotret low angle, backgroundnya langsung langit.

Jalan lagi sedikit, kita akan temukan pintu utama gedung asia afrika. Pintunya tapi dibuka untuk acara-acara khusus saja. Namun, meski ditutup, pesonanya tetap dimanfaatkan untuk foto-foto selfie dan grup.

Berjalan lagi sedikit kita akan temukan masjid agung. Wah, kali ini arsitekturnya ada perubahan di mana-mana. Kang emil memang piaway memoles bangunan menjadi enak dipandang dan dijadikan tempat rekreasi. Di antara masjid itu diletakkan pilar mirip benteng atau gerbang masuk, cantik ya kalau dipadukan sama pilar utamanya.

Tak jauh dari situ, tepatnya sebelah masjid agung, ada pertokoan jaman dulu yang cukup bersejarah. Dibikin siluet, asyik sepertinya.

Di seberang pasar klasik ada bangunan jadul yang kini digunakan untuk kepentingan perbankan. Lupa nama gedungnya apa, tapi aduhai kalau kita potret keseluruhan. Karakter dari gedung itu memang sangat kuat. Paling cihuy kalau kita potret dari atas, kebetulan ada jembatan penyebrangan.

Di jembatan penyebrangan, diam dulu sejenak, liat kiri kanan wah ternyata ada yang asyik. Ini potret jalanan tidak biasa. Jalanan ini sangat beraejarah, inilah salah satu ruas jalan yang menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah kolonial belanda saat jaman penjajahan. Ini adalah jalan yang menghubungkan wilayah banten hingga jawa timur, atau dikenal jg jalan anyer panarukan

Nah, asyik kan berbagi pengalaman melalui foto, mudah-mudahan tulisan ini semakin membangkitkan semangat kamu buat motret, selamat mencoba.

Fotografi dari Kamera HP #6

Soal Aturan Tiga Ruang (Rule of Third)

Sesi kali ini saya akan bahas sedikit teori untuk mendapatkan foto dengan komposisi yang asyik.

Pada dasarnya, memang hasil fotografi itu seperti karya seni lainnya, tingkat kebagusan sebuah karya sifatnya sangat subjektif, atau bergantung pada kesukaan dari fotografer dan penikmatnya. Misalnya, ada foto yang dihasilkan oleh si fotografer a dan dilihat oleh penikmat b. Menurut si b, foto dari a sangat bagus dan mempunyai nilai atau harga yang mahal. Katakanlah, b menghargai foto a dengan nominal Rp. 150 juta misalnya. Tiba-tiba ada penikmat c yang nyeletuk, ia tidak setuju dengan pandangan b yang menghargai foto a dengan nilai yang tinggi. Menurut c, foto a hanya foto biasa, baik dari ide, komposisi dan pengemasannya pun tidak menarik. C justru menyarankan a untuk membuang jauh-jauh foto karyanya itu.

Nah, dari contoh kasus tersebut, setiap orang berhak untuk mengutarakan opini mengenai suatu hal, termasuk di bidang fotografi. Teori estetika dari fotografi muncul karena adanya kesamaan bentuk atau tata letak objek dalam sebuah foto. Biasanya foto dengan objek tertentu selalu diminati misalnya, walaupun komposisinya berbeda. Namun, ada pula foto berbeda dengan komposisi yang sama atau mirip, selalu diminati, walaupun dengan menggunakan objek yang berbeda.

Jadi, teori yang akan saya sampaikan bukan berarti saklek ya. Karena foto yang bagus itu relatif, tapi apa yang saya sampaikan awalnya dari cara orang membuat atau melihat, biasanya berpegang pada prinsip ini.

Kalau kamu surfing di internet sebetulnya juga sudah banyak dibahas, di tulisan ini saya hanya menyederhanakannya saja, mudah-mudahan gampang dimengerti ya.

pertama-tama, coba perhatikan beberapa gambar di bawah ini.

Nah, foto-foto tersebut, saya ambil dengan menggunakan prinsip rule of third, atau dalam bahasa saya aturan tiga ruang. Aturan ini pada prinsipnya membagi bingkai atau frame foto menjadi tiga bagian, baik secara vertikal maupun secara horizontal.

Begini maksudnya, jadi dari satu bingkai foto, kita sebagai fotografer akan membaginya menjadi sembilan bidang sama besar, yang terdiri dari campuran bidang secara horizontal (ke samping) dan bidang secara vertikal (ke atas). Misalnya foto yang ini.

Di beberapa kamera, sudah terdapat fitur rule of third ini, tinggal ke menu lalu aktifkan grid-nya. Maka fitur rule of third akan keluar.

Foto satu ini, frame-nya akan saya bagi menjadi sembilan bidang. Dengan pembagian tersebut, fotografer dapat menempatkan objek dengan baik.

Kalau kita bedah sedikit, cermati di mana fotografer menempatkan posisi objek? jawabannya objek ditempatkan agak ke kiri ya, jadi posisi objek ada di sepertiga bagian frame yang mendekati ke arah kiri, sementara untuk bagian kanannya dibiarkan di isi oleh background.

Dengan teknik aturan tiga ruang, maka bisa dilihat seperti ini. Posisi objek, tepat diperbatasan garis sebelah kiri. Nah, kesimpulannya, foto bagus pertama bisa kita ikuti dengan menggunakan teknik tiga ruang.

Mari kita lihat foto yang lain,

Kurang lebih sama ya, posisi objek ada tepat di garis yang kiri. Pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana untuk foto yang vertikal?

Untuk foto yang vertikal pun kurang lebih mempunyai prinsip yang sama, seperti foto ini misalnya.

Sama kan, objek di foto ini juga terletak di perbatasan garis yang sebelah kiri.

Nah dengan mengetahui teknik ini, kita bisa lebih memahami komposisi atau cara meletakkan objek dengan bantuan grid aturan tiga ruang. Sebetulnya kamu tidak selalu menempatkan objek di sebelah kiri saja, namun bisa juga di garis yang kanan misalnya, tergantung selera kamu. Grid rule of third hanya berfungsi sebagai panduan sederhana saja. Keputusan terakhir menempatkan objek ada di fotografer.

Atau kamu ingin menempatkan objek di tengah-tengah misalnya, tidak masalah, selama menurut kamu objek tersebut lebih bagus jika ditempatkan di tengah, maka tidak ada yang melarang. seperti foto di bawah ini misalnya.

Objeknya adalah crane, posisinya justru di tengah kan, tapi kita sebagai orang yang melihat tidak keberatan jika objek foto itu ditempatkan di tengah. Bebas, point-nya, yang penting foto yang kita buat dapat membuat kita senang dan rileks.

Fotografi dari Kamera HP #5

Merespon Meja Makan

Salah satu hal utama yang perlu dikembangkan oleh fotografer adalah naluri mengeluarkan kamera di sejumlah kesempatan ketika menemukan objek menarik, misalnya, saat makan atau nongkrong di kafe bersama teman atau keluarga. Mengapa begitu? Bagi saya, hidangan di meja makan adalah salah satu objek menarik untuk dipotret. Saya kira, 90 persen dari kamu-kamu pasti suka motret makanan yang dihidangkan, terutama di restoran atau kafe yang asyik sebelum dinikmati rasanya. Ga percaya, coba cek media sosial kamu, path, istagram, atau facebook, pasti bakal nemu tuh satu atau dua foto soal sajian makanan atau minuman enak.

Foto makanan atau minuman yang asyik seringkali membuat kita kagum sama keindahan dekorasinya atau rasa enak dari sajian itu. Mungkin gara-gara itu, sajian kuliner selalu menjadi objek menarik untuk dipotret.

Untuk memotret kuliner sebetulnya agak gampang-gampang susah. Kalau kamu ada di restoran atau kafe yang mempunyai tata lampu yang menarik, bisa dipastikan foto-foto kuliner kamu bakal bagus. Tampilan hidangan yang juga menarik membuat hidangan itu bagus dipotret walaupun diambil dari beberapa angle, kurang lebih seperti perempuan cantik lah, mau dipotret dari arah mana pun tetep cantik. Dua hal itulah yang menurut saya, kuliner sangat mudah dipotret.

Namun, sebaliknya, kamu juga mesti berhati-hati jika restoran yang kamu kunjungi tata lampunya kurang mendukung. Akan sangat sulit sekali memotret kuliner menjadi lebih bagus, apalagi ditambah dekorasi kulinernya kurang menarik.

Saya coba kasih beberapa referensi foto kuliner yang saya ambil beberapa waktu lalu. Saya akan mulai dari makanannya dulu. Makanan pertama adalah, sop ikan sabang, ini diambil dari restoran kopi oey yang berlokasi di jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Lihat di bagian tengah, ada sayuran yang membentuk karakter hati, menurut saya sih unik. Saya tertarik sama bentuknya yang menggugah selera, kuah panas dengan campuran nanas yang dicampur dengan rasa pedas dari cabe rawit. Rasanya sedahsyat tampilannya, enak dan membuat badan segar. Kalau kata Pak Bondan, pemilik resto ini “Maknyus”.

Makanan yang kedua adalah sajian penutup panekuk yang disajikan dengan eskrim yang berlumuran coklat dingin.

Pengambilan foto dengan jarak dekat, menyebabkan karakter panekuk dan eskrimnya menggairahkan, waduh, nikmatnya memang tiada tara.

kita bisa foto sajian ini di restoran blueberry pancake di lantai dasar hotel tjipta yang berlokasi di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Tepatnya di depan jalan Jaksa.

Sajian lainnya adalah eskrim cup yang terdapat di restoran di kawasan kota, Jakarta Utara. Eskrim yang sederhana, namun jika dipadu-padankan dengan latar belakang meja yang berkarakter seperti ini, membuat tampilan eskrim lebih menggairahkan.

Selain makanan, minuman juga mempunyai tampilan yang tidak kalah menarik, seperti ini misalnya.

Saya kira, sajian-sajian kopi yang dibentuk seperti sudah menjadi tren di kalangan penikmat kopi, para barista juga seringkali menampilkan kopi seperti ini.

Saya memotret dari jarak dekat, karena karakter hati pada inti kopi tersebut sangat kuat, sehingga jika dipotret secara dekat, hati yang sangat menonjol pada sajian ini perlu diekspos besar-besar. Kecantikan bentuk hati tersebut, sayang untuk tidak diindahkan.

Karakter yang bisa kita ekspos besar-besar juga bisa kita temukan pada hiasan atau garnis sebuah minuman. Seperti ini misalnya, hiasan daun mint yang diletakan di atas es, menambah sajian minuman itu menjadi lebih segar.

Alasan saya memotret bagian garnis ini sebetulnya tidak hanya karena garnisnya yang menarik, namun gelas tempat penyajiannya kurang menarik. Nah, maksud saya jika kita menemukan situasi yang serupa, dari pada foto kita tidak menarik, carilah salah satu bagian yang paling menarik dari objek foto kita.

Pada situasi yang lain, justru sebuah objek foto akan terlihat lebih berkarakter ketika dipadu-padankan dengan elemen lain.

Seperti pada teh ini, objek justru lebih bagus dilihat ketika saya menambahkan meja yang flat menjadi aksen dari secangkir teh itu sendiri. Dengan penambahan meja itu, tampilan teh menjadi terlihat lebih elegan. Ya paling tidak, menurut saya lah.

Objek lain yang tidak kalah menarik, kadang muncul dari pelengkap sajian kuliner. Seperti objek yang saya foto ini.

sebetulnya, objek ini adalah tempat menyimpan sendok dan garpu, tapi karena bentuknya yang menarik, gatal rasanya tangan saya kalau objek secantik ini tidak saya foto.

Kalau kamu pengen motret juga, kamu bisa kunjungi restoran yang menyajikan pempek terenak di Jakarta, yaitu restoran cawan putih yang berlokasi di jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Dalam tulisan ini, saya memacu kamu untuk tidak malas mengeluarkan kamera saat sedang makan. Cobalah bereksperimen dengan objek makanan, tapi jangan kelamaan ya eksperimennya, nanti malah makanannya dingin dan ga enak disantap, disesuaikan saja. Dan biasanya, beberapa restoran justru akan memberikan penghargaan pada fotografer yang mengunggah sajian kulinernya di media sosial. Lumayan kan, gara-gara motret makanannya, kita dapet makan gratis.