Animasi berasal dari kata “anima” yang berarti jiwa atau hidup
Animasi adalah sebuah proses merekam dan memainkan kembali gambar atau benda diam menjadi bergerak atau hidup
Secara sederhana, animasi adalah upaya menghidupkan sesuatu yang tidak bisa bergerak sendiri
slide 2
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ANIMASI
Sejarah animasi dimulai sejak manusia mengenal budaya gambar atau visual, dengan ditemukannya lukisan-lukisan pada dinding goa. Seperti di Spanyol, penemuan gambar yang menggambarkan gerakan dari binatang-binatang.
Saat manusia mulai menyadari bahwa gambar bisa dipakai sebagai alternatif media komunikasi, timbul keinginan menghidupkan lambang-lambang tersebut menjadi cermin ekspresi kebudayaan. Terbukti dengan ditemukannya sejumlah artefak pada peradaban Mesir Kuno sekitar tahun 2000 SM. Salah satunya adalah beberapa panel yang menggambarkan aksi dua pegulat dalam berbagai pose
https://www.pinterest.com/pin/381046818445526790/
Empat ribu tahun yang lalu, bangsa Mesir juga mencoba memvisualisasikan peristiwa atau tata cara mengenai sesuatu ke dalam gambar-gambar yang dibuat berurutan di dinding-dinding bangunan.
Di Indonesia, wayang kulit dianggap memenuhi syarat animasi, kesenian khas Indonesia ini dinilai sebagai salah satu bentuk animasi tertua. Wayang kulit telah ada sejak dahulu, dimana komputer dan telepon belum ditemukan. Mengapa wayang kulit dikategorikan sebagai animasi? Pada wayang kulit terdapat layar, gambar yang bergerak, bahkan dialog dan musik.
http://dimensilain.com/asal-usul-wayang-kulit/
Animasi tidak akan pernah berkembang tanpa ditemukannya prinsip dasar dari karakter mata manusia, yakni, persistance of vision (pola penglihatan yang teratur). Paul Roget, Joseph Plateau dan Pierre Desvigenes, melalui peralatan optic yang mereka ciptakan, berhasil membuktikan bahwa mata manusia cenderung menangkap urutan gambar-gambar pada tenggat waktu tertentu sebagai suatu pola.
Sekitar tahun 1855 seorang ilmuwan bernama Clark Maxwell berhasil membuktikan bahwa segala warna dapat ditiru dengan mencampurkan warna Merah – Hijau – Biru (RGB) dalam jumlah dan berbandingan tertentu.
Pada 1861, ia memotret pita tartan dengan tiga kali pemotretan memakai film hitam putih. Tiap-tiap pemotretan dilapisi filter berbeda-beda, yaitu filter merah, hijau, dan biru. Kemudian, ketiga foto itu disatukan. Hasilnya seperti di bawah ini.
http://jadul.id/foto-foto-tertua-di-dunia/
Pada tahun 1871, Richard Maddox menemukan bahwa gelatin (seluloid) dapat digunakan sebagai pengganti kaca untuk pelat fotografi. Langkah ini tidak hanya membuat pengembangan lebih cepat tetapi juga membuka jalan untuk film yang diproduksi secara massal.
Juni 1888, George Eastman, seorang Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasil penelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia Perak Bromida) untuk 100 exposure.
Bila seluruh film digunakan, kamera ini yang diisi film kemudian dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi roll film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa.
Di tahun 1972, kamera Polaroid yang ditemukan oleh Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid ini mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.
Fotografi menggunakan sistem polaroid sempat mempunyai masa jaya, sekitar tahun 1980 hingga 1990 awal. Sifatnya yang mempunyai proses pembuatan foto sangat cepat.
Akhir 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, bisa dikatakan sebagai orang pertama yang menemukan Kamera Digital.
Menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar, kamera ini hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel).
Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto. Karena berbagai kekurangan tersebut, kamera ini tak berhasil dipasarkan.
Sejak kehadiran perekam fotografi secara digital, teknologi fotografi juga berubah secara signifikan. Dengan teknologi digital, kamera fotografi bermetamorfosa mengikuti fitur digital. Perekam gambar terakhir yang menggunakan seluloid atau film, di era ini diubah menjadi sensor seperti pada kamera digital. Pada saat itu, kodak sebagai pionir dalam fotografi digital menyediakan mesin digital untuk disatukan dengan kamera analog yang dimiliki setiap fotografer, sehingga kamera menjadi hibrid atau gabungan antara analog dan digital.
Kamera populer setelah lensa ditemukan pada tahun 1550, dengan lensa, cahaya yang masuk ke kamera dapat diperbanyak (diatur) dan gambar dapat dipusatkan sehingga menjadi lebih sempurna.
1575, ilmuwan berhasil membuat kamera portable pertama dan disempurnakan pada tahun 1680 dengan menyertakan cermin refleks. Namun bahan baku untuk mengabadikan gambar belum ditemukan, kamera masih digunakan untuk mempermudah proses penggambaran benda.
Awal abad 17, Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam.
Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut, ia telah berhasil merekam gambar-gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia setelah gambar-gambar itu terekam sehingga permanen.
Pada 1727, Johann Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman, juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas.
Sejarah penemuan film baru dimulai pada tahun 1826. Joseph Nicephore Niepce, seorang veteran Perancis, bereksperimen menggunakan kamera obscura dan plat logam yang dilapisi bahan aspal untuk mengabadikan gambar sebuah obyek.
Setelah 8 jam mengekspos pemandangan dari jendela kamarnya melalui proses “Heliogravure”, ia berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur dan mempertahankan gambar secara permanen.
Keberhasilannya itu dianggap sebagai awal dari sejarah fotografi. Sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang berjudul View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya. Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera obscura sampai beberapa jam sampai tercipta imaji. Metode Niepce ini sulit diterima orang karena lama penyinaran dengan kamera obscura bisa sampai tiga hari.
Pada tahun 1827, Daguerre mendekati Niepce untuk menyempurnakan temuan itu. Dua tahun kemudian, Daguerre dan Niepce resmi bekerja sama mengembangkan temuan yang lalu disebut heliografi.Dalam bahasa Yunani, helios adalah matahari dan graphos adalah menulis. Niepce meninggal pada tahun 1833, Daguerre kemudian bekerja sendiri sampai enam tahun kemudian hasil kerjanya itu diumumkan ke seluruh dunia.
Louis J.M. Daguerre adalah orang yang pertama kali membuat foto yang di dalamnya terdapat sosok manusia. Pada foto yang diambil dari jarak jauh di tahun 1839 itu, tampak seseorang lelaki sedang berdiri dan mengangkat salah satu kaki saat sepatunya sedang dibersihkan oleh orang lain di pinggir sebuah jalan raya.
Daguerre dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin, lalu disinari selama satu setengah jam dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut “daguerreotype”.
Untuk membuat gambar permanen, pelat itu dicuci dengan larutan garam dapur dan air suling.
pada 25 Januari 1839, William Henry Talbott dari Inggris memperkenalkan “lukisan fotografi” yang juga menggunakan sistem kamera obscura, tapi ia membuat foto positifnya pada sehelai kertas chlorida perak.
Kemudian, Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yang terbuat dari lembar kertas beremulsi, yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara “contact print”. Teknik ini juga bisa digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes.
Dalam kutipan yang sama, Kompas menjelaskan fotografi tercatat resmi dimulai pada abad ke-19, tahun 1839 dicanangkan sebagai tahun awal fotografi. Pada tahun itu, pemerintah Perancis menyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen. Kamera yang tadinya berukuran besar, di masa ini sudah dibuat versi kecil atau kompak, sehingga mudah dibawa kemana-mana.
Fotografi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata, photos yang berarti cahaya dan graphos yang berarti gambar atau lukisan. Berangkat dari terminologi tersebut, maka fotografi dapat didefinisikan menjadi seni melukis atau menggambar menggunakan media cahaya.
Membicarakan masalah bagaimana awalnya fotografi dikenal, banyak sekali keterangan yang bisa kita gali dari berbagai sumber. Sumber-sumber tersebut memberikan sejumlah informasi yang tidak jarang berlainan atau banyak versi. Namun dari banyaknya versi, ada beberapa informasi yang mempunyai pengulangan paling banyak.
Kesimpulan dari banyak informasi yang bisa didapatkan, bahwa sejarah fotografi sangatlah panjang, catatan fenomena atau peristiwa fotografi sudah dikenal manusia sebelum masehi. Dalam catatan yang dikutip harian umum Kompas di Indonesia edisi 20 Juni 2004, bahwa menurut Alma Davenport (1991), pada abad ke-5 sebelum Masehi, seorang pria bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala. Ketika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Pada abad ke-10 Masehi, seorang Arab bernama Ibn Al-Haitham menemukan fenomena yang sama pada tenda miliknya yang bolong di salah satu bagian dindingnya.
Pada tahun 1604, fenomena ini kemudian disebut oleh Johannes Kepler dengan istilah “camera obscura“, “camera” = kamar/ruang khusus dan “obscura” = gelap. Peralatan optik untuk memproyeksikan gambar disekitarnya ke dalam layar di ruangan gelap ini diciptakan oleh Kepler dalam bentuk tenda. Prinsip camera obscura kemudian menjadi populer di Eropa pada abad pertengahan. Berbagai disiplin ilmu menggunakan prinsip tersebut untuk tujuan masing-masing. Salah satunya ialah para seniman yang menerapkan camera obscura agar dapat menghasilkan lukisan serealistis mungkin.